Power of Misdirection

September 7, 2009 by JR109719

Terinspirasi dari tulisan seorang teman, dari minggu lalu saya sering terpikir dengan hal yang berhubungan dengan masalah ‘drama’ tersebut, yaitu misdirection. Renungi dulu tulisan tersebut sebelum melanjutkan membaca tulisan saya yang gak penting ini.

Seperti yang beberapa orang tau, belum lama ini saya diterima bekerja di salah satu perusahaan ritel. Kerjanya berhubungan dengan barang, bukan lagi berhubungan dengan orang seperti pekerjaan-pekerjaan saya terdahulu. Sewaktu diberikan training sessions selama beberapa hari, suatu waktu salah seorang trainer memberi kesempatan untuk bertanya. Dan saya bertanya tentang hal yang gak ada hubungannya sama sekali dengan topik yang dia angkat: “Berapa prosentase perbandingan jumlah antara pegawai wanita dan pria di sini?” Semua yang ada di ruangan menengok ke arah saya. Bahkan saya lihat si trainer agak melotot matanya. Hahaha. Mungkin saat itu dia berpikir bahwa pertanyaan tersebut berkonotasi sexist.

Apa saya sexist? Mungkin iya, mungkin gak. Kalo pun iya, saya gak merasa terganggu dengan itu. Saya cuma belajar dari pengalaman sebelumnya, bahwa gosip, konflik, rumors, yang terjadi di semua tempat sebelumnya saya kerja, selalu tinggi jumlahnya ketika pegawai wanita berjumlah lebih banyak daripada pegawai pria. Tapi di saat tempat kerja saya didominasi oleh pria, jumlahnya turun drastis. Memang bukan penelitian ilmiah, hanya pengamatan kasar yang walaupun hasilnya debatable, tapi setidaknya pengalaman hidup memperlihatkan saya seperti itu. Semoga pengalaman berikutnya memperlihatkan sebaliknya.

Tapi kemungkinan itu sepertinya kecil. Si trainer menjawab bahwa perbandingannya sekitar 70:30, antara wanita dan pria. Minggu pertama saya lalui, dan seperti saya duga, konflik, gosip dan rumors sudah banyak beredar dan sampai di kuping saya. Apapun yang dikatakan di dalam ruangan, mengenai betapa bagusnya perusahaan ini, betapa rapinya sistem manajemen di sana, selalu mendapat bantahan yang tentu saja men-discourage pegawai-pegawai yang baru seperti saya ini, bantahan-bantahan yang disebarkan oleh para pegawai dan trainees yang sering duduk berkumpul dan bercampur saat break di sela-sela training. Setiap kali mereka sebarin berita seperti itu, saya cuma diam duduk di situ seakan mendengarkan, walaupun gak jarang kepala saya isinya gambar animasi seorang Beavis yang lagi gebukin kepala mereka pake baseball bat. I’m so violent I guess.

Tapi bukan itu sebenarnya yang menarik. Saya baru nemuin kenyataan bahwa dunia mereka selain penuh dengan intrik dan drama, juga ternyata cuma dipenuhi oleh 2 warna dominan yaitu hitam dan putih (atau sisanya abu-abu). Tidak peduli seberapa banyak mereka meyakini bahwa dunia itu penuh warna, ternyata drama kehidupan yang mereka benci dan cintai sambil mereka tidak sadar lakonkan, cuma berisi dua hal yang saling berlawanan: Benar-salah, kaya-miskin, positif-negatif, optimis-apatis, penting-gak penting, cantik-jelek, mahal-murah, barat-timur, manis-pedas, asam-asin, lapar-kenyang, bahagia-sedih.

Padahal mata angin sendiri memperlihatkan bahwa angin bukan hanya bertiup ke dua arah yang berbeda, tapi juga bisa ke enam arah lain yang tidak bisa disangka. Di sinilah misdirection sering, sengaja atau tidak sengaja, bermain atau dimainkan dengan puasnya. Seperti angin, mereka menyangka kalo angin bertiup dari depan pastinya akan pergi ke belakang, kalo bertiup dari kiri akan menuju ke kanan. Apakah sesederhana itu? Orang-orang yang menggunakan misdirection untuk tujuan yang mereka capai, tentu akan membiarkan penonton menyangka bahwa “angin” akan bertiup ke arah yang penonton duga. Padahal ada berbagai kemungkinan ke mana angin bertiup. Kekuatan ini juga sering dipake oleh media atau penguasa. Ketika ada skandal yang membuat malu penguasa, dibuatlah berita lain yang bisa menciptakan misdirection di mata para awam. Misalnya kasus Bank Century akan bisa di-misdirected dengan kasus Tari pendet. Atau kasus yang melibatkan pejabat penting pemerintah akan bisa di-misdirected oleh kasus matinya seorang artis dengan cara tidak wajar. Banyak sebenarnya contoh misdirection yang terjadi di skala nasional, bahkan juga di skala global. Makanya istilah WMD (Weapon of Mass Destruction) yang terkenal dari sejak perang Irak, diplesetkan kepanjangannya menjadi Weapon of Mass Distraction.

Saya gak bilang bahwa semua yang terjadi di hidup kita atau di dunia adalah misdirection. Bukan itu. Saya cuma menyayangkan (atau malah diuntungkan?) pola pikir banyak orang masih terbagi dalam 2 atrium seperti yang saya sebelumnya contohkan. Akibatnya, mereka melupakan bahwa angin dari barat tidak selalu menuju arah yang berlawanan (baca: Timur), tapi bisa pergi ke mana saja, bisa bertiup tenggara bahkan ke barat laut. Ketika seorang Will Smith lulus ujian “Men In Black I”, itu lebih disebabkan karena dia tidak berpikir dengan hitam-putih. Ketika rekan-rekannya menembak banyak monster dalam ujian mereka, Will Smith tidak tertarik dengan itu. Buat dia, semuanya itu adalah wajar. Dia lebih curiga dengan gambar seorang anak kecil yang berjalan di tengah malam sambil membawa buku Quantum Physic yang akhirnya gambar anak kecil tersebut dia tembak. Lulus ujian, bukan saja sebagai “Man in Black”, tapi juga lulus dari misdirection.

Sepintas alam memang mengajar tentang kutub yang berlawanan, tentang bi-polar (bukan bipolar), tentang baik dan jahat. Ada panas ada dingin. Ada utara ada selatan. Ada malam ada siang. Tapi dibalik itu, alam jugalah yang mengajarkan bahwa alam juga tidak jarang melakukan misdirection, sesuatu yang memiliki kekuatan untuk bisa mengalihkan pandangan mata dan pikiran orang lain. Masih ingat kejadian Tsunami, di mana air laut tiba-tiba surut sebelum akhirnya Tsunami menghantam pantai? Itulah misdirection. Jangan karena kita melihat air laut surut, lalu kita meloncat kegirangan mengira bisa menangkap ikan di pantai dengan mudah. Justru alam dan lingkungan memperlihatkan, orang-orang yang mengenali dan acapkali mempraktekkan misdirection pada akhirnya akan survive.