Yes, I’m back! :)
Udah sebulanan ini lumayan sibuk. Ke gym 3 kali seminggu sejak minggu kedua bulan lalu, trus bantuin temen ajarin murid2 dia di dojo dia, udah gitu ikutan yoga di mana temen gue juga udah lama jadi member di sana. Life is good (walaupun isi bank account segitu2 juga hehehe).
Yang enak sih di gym, fasilitasnya lengkap plus gue sekarang bisa kaya waktu gue masih SMA. Dulu waktu SMA, gue bisa lari 2-3 km gak berhenti. Pas hari pertama gue di gym, coba slow running aja gak bisa 1 mile. Benar2 deh, seperti gue bilang ke temen, ini saatnya gue menghancurkan lemak2 yang ada di badan setelah mereka bertahun2 nebeng di badan gue tanpa bayar uang kos. It worked though. Hari kedua, bisa 1 mile. Hari ketiga di gym, akhirnya bisa 2 miles. Dan terakhir hari ini gue di gym, gue dengan suksesnya lari 5 miles gak berhenti. I’m so happy with myself. Tentu gak cuma pake treadmill, weightlifting dan eclyptical … (wadaw, lupa gue namanya apa) juga gue sering gue pake.
Sebenarnya kenapa gue lately motivated ke gym bukan karena new year resolution. Tapi awal tahun kayanya badan gue bener2 aneh, sampe sekarang gue gak bisa makan daging banyak2. Palingan cuma 1-2 gigit, lebih dari itu rasanya eneq dan bikin muntah. So gue mikir, kenapa juga gue gak sekalian ke gym, karena sejak gue ngalamin dagingphobia gue liat berat badan gue emang pelan2 turun. Soal gym dan my other activities, I’ll post them next time, OK? :)
Anyway, lagu di atas lumayan bagus. Lagi ngetop2nya di radio2 sini. Ngingetin gue sama kejadian kemaren. One of my friends minta gue jemput dia di kerjaannya, dan karena gue emang lagi gak ada kerjaan well gue juga gak keberatan jemput dia. Begitu dia masuk ke dalam mobil, dia coba bersikap ramah. That’s good. 1 point plus. Tapi tiba2 tangan kanan gue diambil sama dia, di saat yang sama mobil polisi berhenti di sebelah gue pas lagi lampu merah. Gue bilang sama dia “please let go of my hand, you can have it back when the cop’s gone.” Bukannya apa2, gue pernah dapet tiket hanya karena polisi ngeliat gue nyetir satu tangan. Dibilangin gitu, eh malah keras kepala. Di otak gue cuma kepikiran soal jumlah poin tiket yang kemungkinan gue dapet kalo itu polisi liat gue nyetir pake satu tangan. 1 point minus buat dia.
Then gak lama snow turun. Jalan udah mulai gak keliatan, terpaksa pake hazard lights or high beams. Mungkin dia tau kalo gue gak suka how she treated me, tangan gue langsung dilepas. Eh selanjutnya dia ngomong “Please talk”. Gue tanya, “Talk about what?” Dia bilang “Anything, I want to hear your soothing voice.” Gue langsung berasa weird, gue bilang sama dia “Why don’t you ask me questions and I’ll answer them.” Dia diem, trus nyahut, “I don’t have anything to ask you. I just want you to talk. Tell me everything about you.” Gue sahutin balik, “If you don’t have anything to talk, why did I have to talk?” Dia diem. Gue diem. Who do you think I am, girl, always keep asking me to talk? Your doll? Di mana2 kalo orang udah nyetir, orang lain yang duduk di sebelah kursi driver punya obligasi moral untuk ngajak ngobrol yang nyupir. This is common sense dan etika di civilized societies. 1 point minus buat dia.
Gue liat gas tank sign di dashboard udah kasih liat kalo bensin udah mau abis. Gue bilang sama dia kalo gue bakal stop by di gas station terdekat, hopefully dapet. Too bad area di situ memang gak familiar buat gue, jadi gue tanya dia di mana gue bisa isi bensin. Dia nicely kasih directions. OK lah, mungkin gue terlalu harsh ke dia sepertinya dia baik ama gue. Tapi 3-4 menit passed by, kok gak dapet2 juga gas stationnya. Then gue liat di sisi kanan di 2-3 blok ke depan ada gas station, gue siap2 udah mau belok, tapi dia malah larang gue berhenti. Gue tanya kenapa, dan dia bilang lurus aja karena dia tau ada gas station langganan dia. I’m OK with that.
Akhirnya dapet juga setelah hampir 10 menit. Pas gue mau isi, dia bilang biarin dia yang ngisi. Gue pikir, bagus juga nih cewek pengertian. Tau gue udah jemput dia, yah peraturan gak tertulis di mana2 yang dijemput much better yang bayar bensin, berarti dia ada kesadaran untuk bayar bensin. Sewaktu gue isi bensin karena menyangka dia bakal bayarin, dia nyamperin gue dan bilang “Where’s your credit card?” Gue tanya buat apaan. Dia bilang, buat bayar bensinnya. Uppsss. I bite my lower lips unconsciously. Karena gak mau argue, gue kasih aja credit card gue sambil gue juga ikutan masuk ke dalem. Begitu di dalem setelah bayar bensin, dia kasih semacam voucher ke cashiernya. Gue tanya itu voucher apaan, dia dengan enteng bilang, “Oh, this voucer needs to be punched everytime we fill up gas here so when it’s punched up to this line, I could get free gas up to 2 gallons.” Kepala gue kayanya langsung pening, dan gue buru2 balik ke mobil. Jadi gue nyetir 10 menit wasting my gas supaya dia bisa fill up her voucher so that she could get free gas? Minus 1 point buat dia? Minus 1 point kayanya terlalu sedikit dikasih ke dia.
Beberapa saat sebelum nyampe rumahnya, dia balik nanya ke gue kenapa gue diem. Kenapa gue gak mau “talk”. Gue cuma natap jalan aja sambil nyetir, sambil mikir, apakah kalo gue bisa nengokin kepala gue ke arah dia, gue bisa kasih pandangan yang tetap nice. Akhirnya gue nengok ke arah dia, and I couldn’t do it. Instead, I could feel I just gave her my cynical look. Dia naikin suara dia, dan bilang kalo dia gak suka sama cara gue treat dia yang gak mau ngomong as she asked me to, and gak suka sama cara gue liat dia.
Begitu dia turun dari mobil karena udah nyampe di rumahnya dia, dia cuma bilang “Why don’t you learn to be a good man.” Abis itu dia banting pintu mobil. Gue cuma whispered “… your welcome.”
Begitu gue nyampe rumah, dia nelpon gue dan kembali nanya kenapa gue kaya gitu gak seperti biasanya. Dia sampe bilang kalo gue bener2 a dissapointment, dan ngecap gue sebagai really a heartless man. Tapi dia nanya lagi kenapa gue kaya gitu, gue cuma bilang “You want to know why? It’s because of minus a hundred points.” Dan gue hang up cell phone gue.
There’s people who always think that they never do wrong so other people shouldn’t let them down. They tend to think that other people are jerks and don’t [want to] understand why. When I told this story to one of my best friends, she told me “They are what we call bitches. Even we women call them as simple as that.”
Tags: heartless, headless, dissappointment, impolite, women
February 10, 2009 at 1:15 am |
Makanya kamu jemput aku aja.. aku baik, manis, tau diri dan punya bakat alami jadi wartawan :D *narsis campur bangga*
February 10, 2009 at 5:59 am |
Hahahahaha,,, Orang tidak tahu diri memang benar-benar ada! :)
February 10, 2009 at 8:38 am |
hihihihihi
February 14, 2009 at 5:31 pm |
you agreed to pick her up then you started measuring everything she did with points. at the same time you “refused to talk” and didn’t even try to engage in conversation except replying to her question with another question. you disliked what she did and said nothing. why even bother picking her up if you couldn’t do it genuinely? hmm… i don’t see only one bitch from the story.
February 18, 2009 at 1:06 am |
*mimik cucu hangat sambil nunggu apdet*
March 11, 2009 at 1:37 pm |
@no cupid: Why are you so stubbornly stupid?
If a girl, any girl, asks me to pick her up, then feels that she has a right not to talk while I’m driving and instead asking me to start a conversation, sorry, I’m not a type of a guy who would like to lick any girl’s ass. In my world; my community, which my lady-friends also confirm it, it’s a passenger who has the obligation to start conversation while another person driving. Maybe in your world, you think that a driver has to drive and also has to start a conversation. It’s up to you since it’s your world. But my entry here is about my world.
To make you hopefully understand: What if a guy asks you to company him watching a movie then he also believes that, after you fulfill his request, you have an obligation to spread your legs so he can fuck you? When you refuse, then he would say”Oh, you didn’t want to accompany me genuinely, do you?” People have boundaries, right? So do I. Not because people do things nicely and kindly for other people, then those other people feel the right to push it too far.
So please don’t even talk about genuinity if you have no fucking idea what it really is.