Lagu di atas ini pernah terngiang di kepala gue selama beberapa minggu, atau mungkin selama sebulanan lebih, membayangkan seseorang yang gue sayangin, seseorang yang setiap hari suaranya selalu bikin gue tersenyum (dan terkadang bikin gue bengong dan tiba2 ngamuk seperti ayam kecolek setan). Terlampau seringnya lagu ini gue dengar, akhirnya gue cari kunci gitarnya, gue coba untuk nyanyiin, bahkan gue dengan bangga kasih tau ke si dia bahwa lagu ini mengingatkan tentang dia. The most thing, gue terus bermimpi, bahwa lagu ini someday akan gue nyanyiin bareng dia :)
Lagi2 relationships. Hari ini gue ketemu hal yang sama. Salah seorang temen cerita mengenai masalah dia yang baru aja bubar sama partnernya. Walaupun sebenarnya gue juga pernah atau sedang ngalamin masalah yang sama, tapi gue tau bahwa dia butuh didengerin. At least for a moment.
Rasa sakit hati, pahit, kecewa, ngamuk, gak rela, marah, dendam, benci, sakit hati lagi, pahit lagi, kecewa lagi, you name it. Itu yang dirasain orang-orang waktu punya masalah sama relationship. Begitu juga gue, temen gue, dan jutaan orang lainnya yang ngalamin masalah yang sama.
Dan itu baru perasaan. Ada lagi keinginan. Kepengen nelpon, pengen teriak, pengen maki-maki, pengen nangis, pengen gigit-gigit bantal, pengen tonjok tembok, pengen cerewetin semua orang di dunia, pengen jedotin kepala ke tembok, pengen garuk2 aspal, pengen jambak orang, pengen nelpon lagi, pengen teriak lagi, pengen maki-maki lagi, pengen nangis lagi. Yeah, sounds familar? Because they are.
So, tadi gue bilangin sama temen gue something like this:
“Relationship itu seperti tali yang dililit ke badan kita. Sewaktu dililit, kita berasa nyaman, hangat, senang, karena kita tau ada sesuatu yang kita rasakan seperti sedang memeluk kita. Dan kita tidak peduli lagi efek samping dari talit itu. Kita tidak pernah memikirkan apakah nanti tali itu akan terlepas lagi lilitannya, karena kita tidak pernah (berani) membayangkan hal itu. Seiring waktu, tanpa sadar tali itu sudah bagian dari kulit kita. Menempel, dan semakin erat menempel seperti menjadi bagian dari kulit kita, disiram air hujan, diterpa sinar matahari, tali tersebut sudah seperti kulit kita.
Dan ketika relationship tersebut usai, kita tiba-tiba berteriak, karena tali tersebut melepaskan lilitannya dari badan kita. Rasa perih yang sangat karena tali tersebut memaksa melepaskan dirinya dari kulit kita, terasa nyata sekali. Sebagian kulit kita bahkan ikut tertarik tali itu sehingga kulit kita tercabik. Apakah kita akan berteriak? Tentu, berteriaklah karena memang rasanya benar-benar sakit. Apakah kita akan memohon agar tali itu tidak pergi? Tidak. Relakanlah tali itu pergi. Karena pilihan yang kita miliki hanyalah berusaha mengurangi rasa sakit, pilu dan perih yang tertinggal di kulit kita. Dan mencari jalan keluar bagaimana supaya luka bekas lilitan tali di kulit kita itu bisa perlahan hilang. Next time, jika memulai relationship yang baru lagi, ingatlah tentang tali itu.”
Tags: bonding, Love, relationship, song
January 26, 2009 at 11:08 am |
Sialan. Tulisan lo ini ngingetin gue lagi akan seseorang yang sedang gue coba untuk hapus dari hidup gue.
Sakit memang. Sangat sakit malah. Dan memang cuma waktu yang bisa nyembuhin. Cuma, entah kapan…
January 26, 2009 at 4:36 pm |
nice illustration!
hmm.. *renggangin tali biar ga ngebentuk2 amad*
hahahhaha
January 27, 2009 at 1:06 am |
I like pain.. reminds me that I’m still alive.
February 1, 2009 at 12:29 pm |
ini lagunya sapa yah? :D
February 7, 2009 at 10:56 pm |
yuuhuuu.. apdetnya mana nih, mas?
*duduk manis sambil minum susu hangat*