Pernah ngalamin gak, ketika 1 detik terasa seperti semenit, dan semenit berjalan seperti 1 jam?
Pernah ngalamin gak, ketika langkah seseorang terasa begitu segar di ingatan, ketika raut bibir dan gerakan bola mata seseorang, begitu merekah di dalam kepala?
Aku pernah.
Aku pernah. Dan tidak menyesal.
Aku pernah. Dan tidak menyesal. Dan semua seperti hamparan samudra, begitu kata mereka.
Lalu bagaimana, masa sampai sini saja?
Mungkin. Bukankah aku pernah bilang, bahwa kita bisa stress karena hal-hal yang kita bisa atur, tapi kenapa kita membuang waktu dan energy mencoba memikirkan hal-hal yang di luar kuasa kita?
Sandal berwarna emas. Yang tipis. Sewaktu aku liat, aku bergumam “apa kakimu nanti gak sakit?” Tapi aku diam saja. Aku malah lebih tertarik dengan betismu.
Bekas jerawat yang mulai mengering. Ada di pipimu. Ingin aku sentuh. Tapi aku tau kamu pasti akan mendelik. Makanya aku diam saja. Aku lebih tertarik dengan pangkal hidungmu.
Melihat kamu, mengecup kamu, merasakan kamu. Semuanya itu bisa aku tuang dalam sejuta kata. Dalam ratusan halaman. Tapi buat apa? Toh hati ini lebih luas dari itu semua.
Aku di sini bukan untuk mencurahkan, bahwa kamu brengsek, tidak tahu malu, jelek, cerewet, tukang mengeluh, sering kritik, karena kamu bukan semuanya itu.
Aku di sini, seperti seorang anak kecil yang menorehkan tanda di tanah. Apakah tanda itu akan selalu berada di situ, ataukah akan tertiup angin dan terhapus hujan, aku tidak tahu. Kalau kau tanya aku, apakah aku ingin agar tanda itu tetap berada di situ. Aku akan melihat matamu, tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Saat itu kamu akan berkata “apaan sih?”. Dan aku akan tersenyum lebih lebar lagi.